Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

Ide Penelitian : Sunscreen Xylocarpus


PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Bumi masa kini mengalami kondisi memprihatinkan. Kondisi memprihatinkan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya rusaknya lapisan ozon. Kerusakan ini mengakibatkan berkurangnya efektivitas ozon dalam melindungi bumi dari pancaran sinar ultraviolet (UV) secara langsung.
Sinar UV dalam batasan tertentu sangat bermanfaat bagi proses fotosintesis tumbuhan dan merubah provitamin D menjadi vitamin D untuk pembentukan tulang dalam tubuh. Akan tetapi, pancaran sinar UV yang tidak terkontrol atau melebihi batasan tertentu dapat memberi dampak buruk bagi kesehatan, khususnya kulit, seperti penyakit kanker kulit yang menyerang sebagian besar masyarakat dunia.
 Dalam menanggulangi masalah ini mayoritas masyarakat, khususnya wanita, melakukan perlindungan dengan pemakaian krim tabis surya. Seperti yang kita ketahui bahwa trend penggunaan sunscreen semakin marak di kalangan masyarakat masa kini, terutama di perkotaan. Akan tetapi, sebagian masyarakat pula mengeluhkan efek samping zat kimia dari penggunaan krim tersebut. Oleh karena itu banyak dilakukan percobaan untuk menemukan  inovasi sunscreen terbaru yang menggunakan bahan dasar alami agar lebih aman.
Penggunaanekstrak biji Xylocarpus sp. sebagai bahan dasar pembuatan sunscreen akan memiliki nilai lebih. Pemanfaatan ini akan mengurangi efek timbulnya iritasi pada kulit akinat penggunaan sunsvreen yang berbahan dasar kimia. Biji Xylocarpus juga merupakan bahan yang ekonomis, selain itu mmemiliki SPF 15-22 yang telahmemenuhi standar yang di tetapkan.
Berdasarkan paparan diatas maka di perlukan percobaan untuk mengetahui efektivitas penggunaan ekstrak biji Xylocarpus grantum sebagai bahan dasar pembuatan sunscreen. Maka penulis merealisasikannya dengan membuat karya tulis berjudul ”Pemanfaatan Ektrak Biji Xylocarpus garntumm Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Sunscreen”.

1.2.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah kualitas SPF pada ekstrak biji Xylocarpus grantum?
2.      Bagaimanakah pembuatan sunscreen?
3.      Adakah efek dari penggunaan ekstrak biji Xylocarpus grantum sebagai bahan dasar pembuatan sunscreen?

1.3.    Rumusan Masalah
Bagaimana efektivitas penggunaan ekstrak biji Xylocrpus grantum sebagai bahan dasar sunscreen?

1.4.    Batasan Masalah
Melihat ruang lingkup dari masalah yang ingin di teliti terlalu luas, penulis membatasi karya tulis pada penggunaan bahan dasar  biji mangrove spesies Xylocarpus grantum.

1.5.    Tujuan Penulisan
1.       Untuk mengetahui kadar SPF pada biji  Xylocarpus grantum
2.       Untuk mengetahui efektivitas penggunaan ekstrak biji sebagai bahan dasar sunscreen

1.6.    Manfaat Penulisan
1.6.1. Manfaat Untuk Pribadi :
Menambah wawasan dan pengalaman terhadap penelitian bagi peneliti. Mengembangkan gagasan atau ide berdasarkan sikap ilmiah.

1.6.2. Manfaat Untuk Masyarakat :
Pembaca dapat memilih alternatif penggunaan sunscreen berbahan mangrove untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan timbulnya efek samping.
1.6.3. Manfaat untuk Lembaga :
Meminimalisir penggunaan bahan kimia sebagai bahan dasar pembuatan sunscreen. Dan Menghemat biaya produksi mengingat buah Xylocarpus yang ekonomis.

KAJIAN PUSTAKA

2.1.    Tinjauan Tentang Sunscreen

2.1.1. Sinar Ultraviolet (UV)
Sinar ultraviolet (UV) diketahui merupakan salah satu sinar dengan daya radiasi yang dapat bersifat letal bagi mikroorganisme. Sinar UV mempunyai panjang gelombang mulai 4 nm hingga 400 nm dengan efisiensi tertinggi untuk pengendalian mikroorganisme adalah pada 365 nm. Karena mempunyai efek letal terhadal sel-sel mikroorganisme, maka radiasi UV sering digunakan di tempat-tempat yang menuntut kondisi aseptik seperti laboratorium, ruang operasi rumah sakit dan ruang produksi industri makanan dan minuman, serta farmasi. Salah satu sifat sinar ultra violet adalah daya penetrasi yang sangat rendah. Selapis kaca tipis pun sudah mampu menahan sebagian besar sinar UV. Sinar UV juga bisa membuat kulit tidak mulus karena menebal atau menipis. Bisa juga muncul benjolan-benjolan kecil yang ukurannya bervariasi. Benjolan-benjolan atau flek pada kulit bisa berkembang menjadi tumor jinak bahkan kanker kulit. Khususnya pada orang yang banyak bekerja di bawah terik matahari atau sering berjemur di pantai. Tidak heran bila bintik awal kanker kulit timbul di bagian tubuh yang terbuka seperti wajah, kepala, tangan dan bagian yang banyak terpapar sinar matahari.
Sinar UV terdiri dari 3 komponen, yaitu UV A, UV B, dan UV C.
a.       UV A
Sinar UVA (panjang gelombang antara 315 – 400 nm) mampu lebih dalam menembus kulit dan memiliki jangka waktu yang lebih lama untuk menimbulkan kerusakan pada kulit, seperti kerutan, dan gejala-gejala penuaan dini. Sinar UVA ini akan membuat kulit menjadi hitam (tanning).
b.      UV B
Sinar UVB (panjang gelombang 280 nm) hanya 0.2 % dari sinar matahari total. Paparan sekitar 15 menit/hari dari sinar UVB ini sebenarnya sangat penting untuk memicu pembentukan vitamin D3 (salah satu komponen Vitamin D) dari provitaminnya. UVB sebenarnya juga mampu melindungi kulit terhadap pembakaran lebih lanjut dengan cara menebalkan lapisan tanduk pada kulit. Namun, eksposisi (paparan) sinar UVB yang terlalu lama dan terlalu sering bisa menyebabkan menyebabkan kulit terbakar yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker kulit akibat penekanan imunitas seluler kulit.
c.       UV C
Sinar UVC (panjang gelombang 100 nm) sebenarnya amat berbahaya dan sangat merusak kulit, tetapi sinar ini ditahan oleh lapisan ozon. Kebocoran lapisan ozon (O3) menyebabkan beberapa (sebagian kecil) sinar ini masuk ke bumi. Tak heran mengapa akhir-akhir ini sinar matahari terasa begitu menyengat dan membakar kulit.
2.1.2. Sunscreen
Sinar ultraviolet memang bermanfaat bagi kehidupan. Namun apabila kulit terlalu lama terkena pancaran sinar tersebut dapat menyebabkan kulit terbakar bahkan kanker. Kita dapat melindungi kulit dengan mengenakan pakaian pelindung untuk menghindari sinar ultraviolet dari pancaran matahari yang terik. Sebenarnya perlindungan dengan cara tersebut kurang efektif, karena sinar ultraviolet masih bisa terserap oleh kulit dan membahayakan. Namun, sesuai dengan perubahan jaman ada cara lain yang lebih efektif untuk melindungi kulit, yaitu dengan penggunaan tabir surya dikenal juga dengan istilah sunscreen yang mengandung UV protection.
Sunscreen lebih efektif melindungi kulit dari paparan sinar UVB, dan sampai saat ini memang lebih sedikit sunscreen yang memberikan perlindungan terhadap kulit akibat paparan sinar UVA.
Dalam memilih sunscreen, harus diperhatikan terlebih dahulu nilai Sun Protecting Factor (SPF) yang terdapat dalam setiap produk tabir surya. Nilai tersebut menunjukkan kekuatan tabir surya dalam melindungi kulit dari sengatan sinar UVB. Seberapa lama kulit terlindungi oleh tabir surya sangat ditentukan oleh nilai SPF yang tertera pada produk tersebut. Bila kulit tanpa tabir surya kulit akan memerah dan terbakar dalam waktu 10 menit di bawah sinar matahari, disebut initial burning time, maka pemilihan tabir surya didasarkan atas nilai SPF dikalikan dengan 10 menit yang menunjukkan daya tahan tabir surya dalam melindungi kulit.
Misal, nilai SPF adalah 15, berarti sunscreen tersebut dapat melindungi kulit selama 15 x 10 menit = 150 menit atau 2 hingga 2,5 jam dari sengatan sinar ultraviolet sebelum kulit menjadi terbakar dan merah.
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai SPF, maka kulit semakin terlindungi. Saat ini sudah banyak diproduksi tabir surya dengan nilai SPF tinggi, 30 dan 50, yang berfungsi tidak hanya mencegah kulit merah dan terbakar, tetapi juga mencegah kerusakan sel-sel DNA akibat sengatan sinar UV

.
2.2.    Uraian Tanaman
a)      Pengertian Mangrove
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (MacNae, 1968). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.
Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.
Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.
Flora ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang bersifat halofit. Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove antara lain adalah :
·         Avicenniaceae (api-api, black mangrove)
·         Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove)
·         Arecaceae (nypa, palem rawa)
·         Rhizophoraceae (bakau, red mangrove)
·         Lythraceae (sonneratia)
·         Meliaceae (Xylocarpus sp.)
Meliaceae  atau mahoni, adalah tanaman berbunga dengan sebagian besar keluarganya adalah pohon-pohon dan semak-semak (dan beberapa herba tanaman) dalam urutan Sapindales ,
They are characterised by alternate, usually pinnate leaves without stipules, and by syncarpous, apparently bisexual (but actually mostly cryptically unisexual) flowers borne in panicles, cymes, spikes, or clusters.Cirinya daun menyirip tanpa stipula, biseksual, bunga ditanggung dalam malai, cymes, spike, atau cluster.Most species are evergreen , but some are deciduous , either in the dry season or in winter. Kebanyakan spesies berganti daun pada musim kemarau atau musim dingin.  Xylocarpus is the only mangrove genus in family Meliaceae.Salah satu genus mangrove dalam keluarga Meliaceae adalah Xylocarpus.

b)      Klasifikasi tanaman Xylocarpus
Divisio                         : Spermathophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Classis                         : Monocotyledonae
Ordo                            : Sapindales       
Familia                        : Meliaceae                
Genus                         : Xylocarpus
Spesies                       : Xylocarpus granatum

c)      Nama lain BuahXylocarpus Granatum
Kira-Kira

d)     Pertelaan/deskripsi Xylocarpus granatum
UMUM
Bentuk
pohon, tinggi mencapai 8 m
Akar
Akar pasak (pneumatophore). Akar pasak berupa akar yang muncul dari system akar kabel dan memanjang keluar ke arah udara seperti pasak. (http://onrizal.files.wordpress.com)
Tipe Biji
biji normal
Buah
buahnya berbentuk bulat seperti bola dengan benih normal
DAUN
Susunan
majemuk, berseling, anak daun biasanya terdiri dari 2 pasang
Bentuk
elips sampai bulat telur sungsang
Ujung
membundar
Ukuran
panjang 7 - 12 cm
BUNGA
Rangkaian
8 - 20 bunga, anak bunga, panjang mencapai 6 cm, di ketiak daun
Mahkota
4, krem sampai putih kehijauan
Kelopak
4 helai, hijau kekuningan
Ukuran
diameter 1,0 -1,2 cm
Lainnya
bunga berkelamin tunggal
BUAH
Ukuran
diameter 15 - 20 cm
Warna
coklat kekuningan
Permukaan
kasar
Lainnya
berat 1 - 2 kg, bulat seperti melon, terdiri dari 6 - 16 biji, dapat mengapung, penyebaran biji oleh arus air, dikenal sebagai Puzzle Fruit
LAIN-LAIN
Spesies yang mirip
X. moluccensis, X. rumphii
Habitat
tepi singai, di mangrove bagian dalam dengan salinitas rendah

e)      Luas dan penyebaran
Hutan mangrove dapat tersebar luas dan tumbuh rapat mulut sungai besar di daerah tropis, tetapi didaerah pesisir pantai pegunungan, hutan mangrove tumbuh di sepanjang garis pantai yang terbatas dan sempit. Perluasan hutan mangrove banyak dipengaruhi oleh topografi daerah pedalaman. Penyebaran beberapa spesies mangrove terdapat di sekitar ekuator antara 32 o LU dan 38 o LS, pada iklim A,B,C dan D dengan nilai Q yang bervariasi. Semakin jauh dari ekuator spesies mangrove semakin sedikit dan pohonnya semakin kecil. Lokasi mangrove paling utara adalah di bagian tenggara pulau Kyushu, Jepang, dimana hanya ditemukan satu spesies saja (Kandelia candel), sedangkan lokasi paling selatan adalah bagian utara Selandia Baru dimana hanya teridentifikasi satu spesies yaitu Avicenia marina.(http://www.mangrovecentre.or.id)

a)      Khasiat Mangrove
Manfaat secara tradisi yang lain dari tumbuhan mangrove adalah sebagai sumber bahan obat-obatan. Beberapa jenis mangrove mengandung bahan aktif yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya Xylocarpus granatum dan Xylocarpus moluccensis
Bijinya dapat digunakan secara oral untuk menyembuhkan diare dan kolera. Air ekstraknya digunakan untuk pembersih luka.

Jumat, 20 April 2012

Efektifitas Daya Hambat Tanin terhadap Bakteri








PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

                Hidup sehat merupakan impian semua orang. Namun, kenyataanya kondisi lingkungan sekitar semakin memburuk, hal ini menyebabkan semakin banyak muncul berbagai jenis penyakit. Terutama pada lingkungan yang kurang bersih. Salah satunya adalah penyakit diare. Faktanya, diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Escherichia coli merupakan salah satu bakteri yang dibutuhkan dalam pencernaan. Tetapi, dengan munculnya strain baru menyebabkan bakteri ini membahayakan bagi makhluk hidup,  terlebih apabila jumlahnya melebihi batas normal dalam pencernaan. Di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita serta nomor 5 pada semua umur (survey kesehatan rumah tangga di indonesia, http://pogama.ugm.ac.id).
Berbagai cara dilakukan guna mengobati penyakit tersebut. Namun, saat ini banyak masyarakat memilih pengobatan alami yang lebih memiliki sedikit efek samping. Dalam pengobatan tradisional di Indonesia sendiri, pemanfaatan Psidium guajava atau jambu biji sebagai obat diare telah ada sejak lama. Pemanfaatan tanaman ini berupa daun, kulit batang maupun akarnya. Pada dasarnya setiap bagian tumbuhan kemungkinan berpotensi dalam pengobatan diare karena mengandung tanin yang merupakan senyawa fenol yang bekerja sabagai antiseptik pada bakteri. Tetapi tidak semua kandungan tanin pada bagian tubuh tumbuhan jambu biji ini sama.
Oleh sebab itu peneliti ingin membandingkan efektifitas kerja antibakterial pada setiap bagian tubuh pada tumbuhan jambu biji terhadap Eschericia coli dengan mengidentifikasi senyawa tanin di setiap bagian tumbuhan jambu biji untuk memaksimalkan manfaat penggunaan tanaman jambu biji sebagai obat diare.

I.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dibuatlah identifikasi masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana  membuat ekstrak daun dan kulit batang jambu biji?
2.    Bagaimana menguji kandungan tanin ekstrak daun dan kulit batang jambu biji?
3.    Bagaimana penggolongan kandungan tanin pada ekstrak daun dan kulit batang jambu biji?
4.    Bagaimana pengujian daya hambat (antimikrobia) tanin terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus?
5.    Bagaimana pengaruh tanin pada ekstrak daun dan kulit batang jambu biji terhadap daya hambat Escherichia coli?

I.3 Rumusan Masalah
1.       Bagaimana perbedaan kandungan tanin pada daun dan kulit batang jambu biji?
2.       Bagaimana efektifitas pemanfaatan ekstrak daun dan kulit batang jambu biji sebagai obat untuk menyembuhkan diare?

I.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas antibakteri dari simplisia yang berbeda, yaitu ekstrak daun dan kulit batang jambu biji dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

I.5 Manfaat  Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat Untuk Pribadi :
      Menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan penelitian serta melatih diri peneliti untuk mencoba bereksperimen dengan sesuatu yang baru. Melatih peneliti untuk bersikap ilmiah dan memperhatikan lingkungan sekitar.
2.    Manfaat Untuk Masyarakat :
      Pembaca mendapatkan alternatif pengobatan gangguan pencernaan dan menjadi solusi  dalam memaksimalkan pemanfaatan tanaman jambu biji sebagai obat alami penyakit diare.
3.    Manfaat Untuk Lembaga :
Memaksimalkan pemanfaatan tanaman jambu mede sebagai obat alami penyakit diare.

KAJIAN TEORI

II.1. Psidium guajava

Guava (Psidium guajava) adalah tanaman tropis yang berasal dari Brazil. Jambu biji tersebar ke Indonesia melalui Thailand. Jambu biji memiliki buah yang hijau dengan daging buah putih ataupun merah. Jambu biji terutama jambu biji merah mengandung vitamin A yang tinggi, juga vitamin B1 (tiamina), vitamin B2 (riboflavin).
1.              Kalsifikasi :
Kingdom: Plantae
                Subkingdom: Tracheobionta
                Super Division: Spermatophyta
            Division: Magnoliophyta
            Class: Magnoliopsida
            Sub Class: Rosidae
            Order: Myrtales
            Family: Myrtaceae
            Genus: Psidium
            Spesies: Psidium guajava L.
(Diunduh dari http://www.plantamor.com pada Miinggu, 26 Juni  2011 jam 19:07)
2.              Kandungan Kimia
Buah, daun dan kulit batang jambu biji mengandung tanin, namun pada bunga tidak terdapat banyak tanin.

3.              Kegunaan
Daun, akar dan kulit batang dapat digunakan sebagai disinfektan dan antiseptik karena mengandung tanin yang merupakan senyawa fenolik yang bersifat antimikrobia.

II.2. Tanin

Tanin merupakan senyawa organik yang memiliki senyawa komplek folifenol, tersusun dari unsur C, O, dan H dan molekul lainnya. Tanin dapat ditemukan pada daun, kulit batang, dan akar.
 (Diunduh dari http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html pada Selasa, 4 Januari 2011 pukul 18.28)
1.              Mengidentifikasi golongan tanin
a.              Catechol Tannins memiliki dua gugus fenol. Jika simplisia mengandung tanin ini maka warna simplisia akan berubah setelah penetesan FeCl3 menjadi hijau dan memiliki endapan merah muda setelah penambahan senyawaformaldehida dan HCl (2:1) setelah dipanaskan pada penangas air, dan akan terbentuk endapan saat ditambahkan larutan Br.
b.             Pirogalotanin Tannins memiliki tiga gugus fenol. Jika simplisia mengandung tanin ini maka warna simplisia akan berubah setelah penetesan FeCl3 menjadi biu kehitaman dan tidak memiliki endapan merah muda setelah penambahan senyawaformaldehida dan HCl (2:1) setelah dipanaskan pada penangas air, dan tidak akan terbentuk endapan saat ditambahkan larutan Br.
(Diunduh dari http://www.scribd.com/mobile/documents/44498739 Identifikasi Golongan Tanin  pada Minggu, 26 Juni  2011 jam 19:15)
2.              Test of Tannins
a.              Tes kualitatif:
§  Dengan FeCl3, jika ada tanin maka akan ada perubahan warna menjadi hijau atau biru kehitaman pada simplisia setelah penetesan FeCl3.
§  Dengan Kalium Ferrisianida ditambah Amonia, jika mengandung tanin maka akan ada perubahan warna menjadi cokelat pada simplisia setelah penambahan Kalium Ferrisianida ditambah Amonia
§  Dengan Formaldehide ditambah HCl (2:1)
b.             Tes kuantitatif
§    Analisa umum pada senyawa fenol
§    Analisa dasar dari gugus fenol
§    Metode presipitasi dengan protein (Hangerman, 2002)
(Diunduh dari http://www.scribd.com/mobile/documents/16766643 Uji Fitokomia  pada Minggu, 26 Juni  2011 jam 19:15)
3.              Fenol
Rumus kimia C6H5OH dan memiliki gugus hidroksil (-OH). Fenol digunakan untuk antiseptik saat operasi pembedahan oleh Sir Joseph Lister. Fenol merupakan komponen penting pada antiseptik seperti Triclorophenol (TCP).

II.3. Antimikroba

Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatic). Disinfektan yaitu suatu senyawa kimia yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda mati seperti meja, lantai dan pisau bedah. Adapun antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit. Efisiensi dan efektivitas antiseptik dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Ada banyak hal yang mempengaruhi kerja dari antimikroba. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sarles, Frazier, Wilson, dan Knight (1956 dalam Sunarya, 2001) adalah sebagai berikut:
1.             Intensitas
Pada intensitas atau konsentrasi yang tinggi, antimikroba bekerja dalam waktu yang singkat, tetapi pada konsentrasi yang rendah desinfektan memerlukan waktu yang lama dalam membunuh mikroorganisme.
2.         Jumlah mikroorganisme
Menghambat atau membunuh mikroorganisme dalam jumlah banyak lebih sulit daripada yang jumlah sedikit. Hal ini disebabkan oleh salah satu atau kedua faktor, yaitu kuantitas bahan yang menjadi penghambat atau pembunuh sel-sel dalam jumlah banyak, dan pencampuran populasi yang memunculkan tipe resisten dalam banyak sel dibandingkan dalam sedikit sel.
3.         Macam organisme
Beberapa mikroorganisme sangat mudah dihambat atau dibunuh, sedangkan yang lainnya menjadi resisten. Pada umumnya, spora pada bakteri yang berspora lebih resisten daripada sel vegetatif dan jenis yang berkapsul lebih sulit dihambat dan dibunuh daripada jenis yang tidak berkapsul.

II.4. Bakteri Uji

a.              Esherichia coli
             Menurut Kenneath (2008), Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae yang termasuk gram negatif dan berbentuk batang. Bakteri ini mempunyai kisaran suhu pertumbuhan 300C-400C.  Esherichia coli hidup dalam jumlah besar di dalam usus manusia, yaitu membantu sistem pencernaan manusia dan melindunginya dari bakteri patogen. Akan tetapi pada strain baru dari Escherichia coli merupakan patogen yang dapat menyebabkan infeksi enteropatogenik, seperti: Enterotoxigenic E. coli (EPEC), Enterohemorrahagic E. coli (EHEC), Enteroinvasive E. coli (EIEC), dan Enteroagrogative E. coli (EAEC) (Supardi dan Sukamto, 1998). ETEC sering menyebabkan penyakit diare. Peranan yang mengguntungkan adalah dapat dijadikan percobaan limbah di air, indikator pada level pencemaran air serta mendeteksi patogen pada feses manusia yang disebabkan oleh Salmonella typhi (Mikrolibrary, 2008 dalam Fajriana, 2008).


Domain:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Esherichia coli












(Diunduh dari http://wikipedia.org pada Minggu, 26 Juni 2011  pukul 19.45)
Infeksi coli berasal dari:
·       Makan daging sapi setengah matang (di dalam merah muda)
·       Minum yang tercemar (tidak murni) air
·       Minum yang tidak dipasteurisasi (mentah) susu
·       Bekerja dengan ternak
(Diunduh dari http://familydoctor.org pada Minggu, 26 Juni 2011 pukul 20.00)
b.             Staphylococcus aureus
             Staphylococcus aureus termasuk ke dalam suku Microccaceae. Bakteri ini bersifat gram positif, berbentuk bulat tersusun seperti anggur dan pada kondisi tertentu dapat membentuk satu sel, dua sel, atau membentuk rantai. Hidup secara aerobik ataupun anaerobik fakultatif. Sifat lainnya adalah non motil, tidak membentuk spora dan bersifat katalase positif (Fardiaz, 1983).
             Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35-370C, dengan suhu minimum 6,70C dan suhu maksimum 45,50C. Dinding sel Staphylococcus aureus mengandung 3 komponen utama, yaitu peptidoglikan, asam tiokoat dan protein A yang berikatan secara kovalen dengan peptidoglikan. Staphylococcus aureus ditemukan pada kulit dan membran mukosa hewan berdarah pana. Selain itu ditemukan juga pada permukaan kulit manusia (Baid-Parker, 2000).
             Staphylococcus aureus bersifat patogen. Bakteri ini sering mengkontaminasi dan dapat menimbulkan racun pada bahan pangan seperti daging sapi dan ayam, udang kupas, susu (Murray dkk., 1984; Gupte, 1990. Staphylococcus aureusdapat memproduksi enterotoksin yang akan menyebabkan penyakit jika dikonsumsi manusia. Enterotoksin yang dihasilkan bersifat tahan panas dimana ketahanan panasnya melebihi sel vegetatifnya. Enterotoksin diproduksi pada suhu antara 100-4600C, optimum pada 400-450C (Jay, 1978).
             Keracunan makanan yang tercemar oleh Staphylococcus aureus bersifat intoksifikasi, dengan gejala meliputi mual, keram perut, dan diare. Gejala tersebut muncul 1-8 jam setelah enterotoksin masuk ke dalam tubuh (Prescott dkk., 2003).

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia